Posted by: ahabibi | December 26, 2007

Satu Dekade Pemantauan Reef Check di Indonesia

coverJKRI

Beberapa waktu bersibuk-sibuk dengan studi, akhirnya jadilah laporan “Satu Dekade Pemantauan Reef Check: Kondisi dan Kecenderungan pada Terumbu Karang di Indonesia”. Laporan ini dipersembahkan kepada semua sukarelawan pemantau terumbu karang yang bergabung dengan tim Reef Check di Indonesia dari tahun 1997 hingga saat ini di seluruh Indonesia.

Pertanyaan mengenai bagaimana kondisi terumbu karang di Indonesia selama beberapa tahun belakangan dijawab oleh laporan ini. Secara umum, kondisi terumbu karang Indonesia berada dalam kategori Sedang (26-50%) dengan persen kemunculan yang cenderung menurun. Untuk ikan, telah terjadi tangkap lebih pada ikan ekonomis dan ikan karang konsumsi yang diindikasikan dengan menurunnya jumlah Kerapu Tikus, Napoleon, Kerapu, Haemulidae, Parrotfish dan Bumphead Parrotfish. Butterflyfish sebagai salah satu indikator untuk mengetahui tekanan terhadap usaha koleksi akuarium menunjukkan adanya sedikit penurunan jumlah rata-rata per tahun.

Tren penurunan jumlah substrat dan ikan yang ditemui oleh pemantau Reef Check juga ditemui di indikator invertebrate. Jumlah indikator penangkapan ikan berlebih serta pemanenan berlebih menunjukkan penurunan yang signifikan. Bulu Seribu atau Acanthaster plancii yang dijadikan sebagai indikator predator karang, dicatat berada dalam populasi minimal. Satu perbedaan dari tren yang menurun tercatat pada indikator biota koleksi akuarium, yang jumlahnya cenderung naik.

Secara umum, dampak yang berakibat pada kerusakan terumbu karang (coral damage) dan trash (sampah) tidak menunjukkan adanya kecenderungan turun ataupun naik secara jelas. Mayoritas kerusakan tidak terlalu besar (ada pada level 1) dengan rata-rata jumlah kerusakan tertinggi disebabkan oleh aktivitas perahu/jangkar, sementara trash juga terdapat pada level yang sama dan mayoritas berasal dari penyebab lain.

Akhir kata, kita menyadari bahwa tekanan terhadap terumbu karang semakin meningkat seiring kegiatan pembangunan serta pemanfaatan sumberdaya di Indonesia. Kerjasama berbagai pihak untuk berbagi tugas dalam pengelolaan ekosistem ini mutlak diperlukan untuk kelestarian sumberdaya yang pada gilirannya nanti juga akan memberikan keuntungan bagi kita.

Download file laporan Satu Dekade Pemantauan Reef Check di Indonesia disini


Responses

  1. Terima kasih koreksinya. Anda benar. Brayo adalah nama daerah untuk Avicennia dan untuk lokasi cerpen “Selamat Datang, Rhizophora, telah kami koreksi dari Solo menjadi Demak. Silahkan dicek ulang di KeSEMaTBLOG.

    Semoga informasi kecil ini bisa berguna untuk masyarakat, sebagai sebuah usaha kecil kita, dalam mengkampanyekan mangrove Indonesia.

    Untuk artikel dari seberang, terutama Australia, terima kasih akan sangat kami perlukan untuk memperkaya KeSEMaTBLOG. Beberapa biro KeSEMaT di Inggris seperti Mbak Ratih (KeSEMaTERS IV), Korea – Mbak Nurul (KeSEMaTERS III), juga sedang menyiapkan laporan mangrovenya.

    Terlebih, Mas Habib, yang menurut database Alumni KeSEMaT, termasuk KeSEMaTERS Agkatan II.

    Kami persilahkan, menulis dan terus menulis tentang mangrove untuk dikirimkan kepada kami. Kami tunggu kabarnya.

    Regards,

    Karina Widaty
    MENWEBNET KeSEMaT

  2. Wah resume yang menarik.

    Bung Habib, ijin posting ini saya redirect di milist Yayasan CAI.

    Ok

    Sihamo

  3. Nice article,

    berarti saya termasuk salah satu sukarelawan pemantau terumbu karang tersebut ya? Mungkin sudah “hattrick”, sejak jadi panitia sampai “ongkang-ongkang” jadi SC. Hehehe.

    Lanjutkan..!!

    Keep “Coral Reefs” Conserving


Leave a response

Your response:

Categories